Kalibiru

Destinasi Yogyakarta Tiket Masuk Rp15.000 Adventure Level

Bukan tanpa alasan jika Jogja mampu bersanding dengan Bali sebagai primadona pariwisata di Indonesia. Selain dianugerahi alam dengan panorama yang indah serta adat istiadat dan budaya lokal yang terjaga kelestariannya, Jogja juga selalu berbenah.

Berkunjung ke Yogyakarta menjadi tidak membosankan, karena tempat-tempat wisata yang ada selalu menyuguhkan sesuatu yang baru dalam bentuk penamabahan fasilitas dan sarana untuk lebih memanjakan wisatawan.

Saat ini sudah banyak objek wisata Yogyakarta dan sekitarnya yang sayang jika dilewatkan begitu saja. Salah satunya yaitu objek wisata alam Kalibiru.

Kalibiru sebenarnya adlah sebuah nama hutan yang saat ini diolah menjadi sebuah tempat wisata alam. Hutan Kalibiru memiliki ketinggian 450 meter diatas permuakaan laut, dan merupakan kawasan perbukitan yang subur.

Suhu udara di tempat ini sangat sejuk. Kalibiru dikelola oleh pemerintah dan masyarakat setempat sebagau wisata alam dan edukasi.

Ada banyak hal yang bisa kamu lakukan di sana, termasuk outbond, penginapan, dan beberapa spot untuk mencari foto kekinian.

Dari atas puncak Kalibiru ini, kamu bisa menyaksikan pemadangan yang sungguh indah, antara lain deretan Perbukitan Menoreh yang subur dan hijau, dan apabila cuaca sedang cerah, maka kamu bisa menyaksikan deburan ombak pantai selatan dari kejauhan.

Sementara di sisi timur, kamu bisa melihat dataran yang menghampar luas tidak terbatas. Di puncak terdapat sebuah prasasti batu, menara padang, serta fly over.

 

Sejarah Kalibiru

Kalibiru adalah kawasan hutan lindung yang berdiri di atas perbukitan dengan tanah bergelombang dan berada pada ketinggian 450 meter dari atas permukaan laut, dengan titik koordinat 7,8°LU dan 110,12°BT.

Hutan lindung ini dikelola oleh masyarakat dan sebagian areanya dimanfaatkan untuk kawasan wisata, dengan tujuan untuk melestarikan kawasan hutan, sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat.

Dalam sejarah tercata bahwa sebelum tahun 1930 Kalibiru merupakan kawasan perkampungan yang telah dihuni oleh penduduk secara turum temurun slema ratusan tahun.

Bahka, Pangeran Dipenegoro dalam perlawanannya melawan VOC pernah menjadikan Kalibiru sebagi tempat persembunyian.

Penduduk yang tinggal di sini mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dengan luas lahan yang terbatas.

Sekitar tahun 1930-1945, Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih Kalibiru untuk dijadikan kawasan hutan penghasil kayu.

Sehingga penduduk dilarang untuk beraktivitas di lahan yang semula mereka miliki, bahkan mereka diusir secara paksa oleh penjajah Belanda tanpa diberikan kompensasi.

Karena dlam posisi yang lemah dan tidak mampu melawan, pendudukpun tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mencari tempat tinggal baru.

Pada tahun 1945-1949, Pemerintah Indonesia mengambil alih penguasaan kawasan hutan Kalibiru dan menetapkannya sebagai Hutan Negara dengan luas 1.047 hektar yang sebagian besar berupa lahan berbukit yang membentang di sepanjang Perbukitan Menoreh.

Sekitar tahun 1949-1964, kawasan hutan terpelihara dengan baik dan berfungsi sebagaimana yang diharapkan, sehingga memiliki tangkapan air yang sangat baik dan membuat kawasan sekitar tidak pernah mengalami kekeringan, banjir maupun tanah longsor.

Hal tersebut membuat masyarakat yang tinggal di kawasan sekitar hutan merasa nyaman, karena kebutuhan hidup mereka dapat terpenuhi dari lahan-lahan pertanian.

 Keadaan berbeda terjadi antara tahun 1964-2000. Kondisi politik yang kacau balau akibat pemberontakan PKI, yang berdampak pada sosial ekonomi masyarakat, dan membuat sebagian masyarakat memilih jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan cara mencuri kayu dari hutan.

Kondisi tersebut di perparah dengan banyaknya penjaga hutan yang justru tidak berusaha untuk mengamankan hutan, tapi justru ikut terlibat dalam pembalakan liar.

Puncak dari rusaknya hutan di Kalibiru terjadi pada periode 1997-2000 atau pada saat terjadinya krisi global, dimana control terhadap sumberdaya hutan yang dilakukan pemerintah sangat lemah.

Sehingga pembalakan liar semakin membabibuta dengan dilakukaknya penebangan liar secara besar-besaran yang membuat kawasan hutan menjadi hamparan tanah kosong yang hanya ditumbuhi pohon perdu dan umbi-umbian.

Akibat kerusakan hutan tersebut, selain membawa dampak ekologis yang parah berupa kekeringan pada musim kemaran dan banjir serta tanah longsor pada musim penghujan, perekonomian masyarakat juga jauh pada titik terendah karena lahan pertanian mereka seringkali gagal panen.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, sekitar tahun 1999-2008 pemerintah menggalang kerjasama dengan LSM Yayasan Dinar untuk memberdayakan masyarakat melalui LMDH dengan titik tekan pada Pengelolaan Lembaga, Pengelolaan Kawasan dan Pengelolaan Usaha.

Langkah awal tersebut disusul dengan terbitnya Surat Ijin Sementara HKm (Hutan Kemasyarakatan) pada tahun 2003 sebelum akhirnya menjadi Ijin Tetap (Definitf) HKm pada tahun 2007.

Untuk mendorong keberhasilan HKm, pemerintah memberikan bantuan dalam berbagai bentuk seperti bibit tanaman buah-buahan dan perkebunan sebagai tanaman sela bibit, empon-empon sebagai tanaman bawah tegakan, bantuan modal untuk mendirikan koperasi, bantuan sosial dalam bentuk indukan sampi, dan berbagai bantuan lainnya untuk meningkatkan sector perekonomian masyarakat.

Sedangkna untuk membantu masyarakat dalam menyukseskan program pemerintah melalui HKm, dibentu lembaga yang memiliki peran sebagi pendamping dengan nama Komunitas Peduli Lingkungan Alam Lestar (Komunitas Lingkar).

Melalui komunitas Lingkar itulah program pelestarian hutan terus dikembangkan, hingga akhirnya disepakati bersama untuk menjadikan kawasan hutan indung di Kalibiru sebagai wanawisata dan Desa Kalibiru sendiri dijadikan Desa Wisata.

Lokasi Kalibiru

Sebagaimana tertera pada gambar di peta serta google map, secara administrative tempat wisata alam Kalibiru ini berada di Jalan Waduk Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jarak antara lokasi wisata ini dengan pusat kota Jogja sekitar 45 km yang dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dengan lama perjalanan sekitar 1-1,5 jam.

 

Rute Ke Kalibiru

Adapun beberpa rute yang bisa kamu lalui untuk sampai di lokasi ini, diantaranya

Rute Sermo-Kalibiru, rute ini merupakan jalur favorit dan paling banyak dilalui para wisatawan, karena disepanjang perjalanan dapat menikmati keindahan Bendungan Sermo yang juga menjadi salah satu objek pariwisata di Jogja.

Jalur Sermo akan dapat lebih cepat ditempuh jika melewati Sentolo yaitu dengan melintasi Jembatan Bantar hingga tiba di Stasiun Sentolo. Disitu kamu akan menemui papan petunjuk kjalan yang menuju ke arah Pengasih.

Ikuti jalan tersebut hingga melewati Pengasih, alun-alun Wates, RSUD Wates dan Beji, baru kemudian ke Sermo sebelu akhirnya sampai di Kalibiru.

Rute Clereng-Kalibiru, dibandingkan dengan rute yang melewati Bendungan Sermo, rute ini relatif lebih cepa dan mudah ditempuh, karena medan yang harus dilewati memang tidak seberat rute Sermo.

Jika mengambil rute Clereng, bawa kendaraan kamu menuju ke pasar Clereng dan sekitar 300 meter dari pasar, kamu akan menjumpai jembatan yang letakna persis berada di sebuah tikungan.

Lewati jembatan tersebut dan sekitar 20 meter kemudian kamu akan menjumpai papan petunjuk arah yang menuju Kalibening.

Lewat Malioboro, kamu juga bisa menuju ke Kalibiru dengan melewati Malioboro. Caranya yaitu dengan mengambil halur yang menuju ke arah Purworejo.

Ikuti terus jalan tersebut hingga tiba di Terminal Wates. Setelah melewati terminal, kamu akan menjumpai papan petunjuk jalan yang menuju ke Sermo dan Kalibiru.

Harga Tiket Masuk Kalibiru

Untuk bisa menikmati keindahan dan berbagai aktivitas juga fasilitas di kawasan wisata Kalibiru ini, kamu hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 perorang, ditambah ongkos parkir sebesar Rp 2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp 5.000 untuk kendaraan roda empat.

 

Fasilitas di Kalibiru

Dengan harga tiket yang cukup murah, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan alam sambil berfoto ria, tapi juga dapat memanfaatkan beberapa fasilitas yang disediakan pengelola.

Beberapa fasilitas ang ada di tempat wisata ini diantaranya adalah kamar mandi dan toilet, mushola, outbond area, camping ground dan area parkir yang luas.

Untuk mengisi perut dan menghilangkan dahaga, tersedia warung-warung yang menjual baerbagai jenis makanan dan minuman di depan pintu masuk serta di dalam kawasan wisata.

Harga makanan yang mereka jual juga tidak terlalu mahal, hanya sekitar Rp 10.000 perporsi.

Untuk pengunjung yang ingin menghabiskan malam di kawasan wisata agar bisa menikmati sunrise pada pagi hari, tersedia camping ground untuk mendirikan tenda, serta cottage dan pendopo yang disewakan.

Harga sewa cottage permalam sebesar Rp 120.000- Rp125.000, sedang harga sewa pendopo sebesar Rp 150.000.

Aktivitas di Kalibiru

Menikmati pemandangan alam yang masih alami dan terawat

Dari ketinggian di salah satu Spot di Kalibiru ini, kamu bisa menikmati indahnya pemandangan Bukit Manoreh dan Waduk Sermo, yang lokasinya juga tidak terlalu jauh dari Kalibiru.

Mata kamu juga akan dimanjakan dengan pemandangan yang begitu hijau yang membuat mata dan pikiran terasa fresh.

Ditambah lagi dengan udara yang sejuk dan rindangnya pepohonan sekitar yang akan semakin membuatmu betah untuk berlama-lama di sini.

Berburu foto asik di salah satu spot foto Kalibiru

Spot Foto di ketinggian memang menjadi salah satu andalan di Kalibiru. Kalau kamu datang ke sini tapi belum sempat berfoto, pasti rasanya belum lengkap.

Spot fotonya juga sangat indah pun begitu unik dan menarik, dengan pemandangan waduk, perbukitan, dan pepohonan yang melatarbelakanginya.

Tapi, untuk berfoto di ketinggian ini kamu perlu merogoh kocek, tenang cukup 10 ribu sampai 15 ribu saja kok. 

Mencoba outbond dan trekking yang menantang

Selain menikmati alam dan berswafoto, kamu juga bisa melakukan kegiatan outbond di sini. Kegiatan yang bisa kamu lakukan seperti trekking jalur Kalibiru yang sudah disiapkam (panjang rute dari 2-5 KM), climbing, meniti jaring, baerjalan diatas tali tambang.

Setelah itu, ada juga jembatan yang bisa kamu lewati dari ketinggian, hal ini bisa cukup menantang dan memacu adrenalin kamu. 

Kemudian sebagai penutup, kamu bisa merasakan terbang di atas ketinggian hutan, dengan melakukan flying fox. Seru kan?

Menikmati indahnya sunset dari ketinggain Kalibiru

Di sini kamu juga bisa menikmati keindahan sunset dari ketinggian. Datanglah sekitar pukul 4 sore. Kemudian kamu bisa jalan-jalan menikmati alam di sana.

Setelah menjelang sunset, kamu bisa naik ke papan kayu yang sudah disediakan di ketinggian. Menikmati sunset dari sini dijamin kamu akan merasakan sensasi yang berbeda, terlebih pemandangannya juga sangat bagus untuk foto.

 

Jam Operasional Kalibiru

Destinasi wisata Kalibiru ini bisa mulai kamu kunjungi pada pukul 07.00 hingga 17.00 WIB. Kawasan destinasi wisata ini juga buka setiap hari dari hari Senin hingga Minggu.

Jika kamu bermaksud bermalam di sini pada musim liburan, usahakan untuk reservassi terlebih dahulu, mengingat banyakna pengunjung yang juga ingin menikmati malam di Kalibiru.

Sebab, jika tidak booking tempat terlebih dahulu, ada kemungkinan kamu tidak kebagian tempat menginap.

Untuk mendapatkan pemandnagan terbaik, sebaiknya mengunjungi tempat ini di pagi hari. Dengan datang di pagi hari, kamu akan terhindar dari antrian wisatawan yang hendak mengambil foto di spot-spot selfie yang tersebar di beberapa tempat.

Waktu terbaik mengunjungi objek wisata ini adalah sepanjang bulan Juli. Karena di bulan inilah cuaca di kawasan Kalibiru cerah dan memiliki curah hujan yang tinggi.

Jadi, kapan kesini?