Budaya di Bali– Liburan ataupun wisata ke pulau Dewata, maka anda tidak hanya menemukan tempat rekreasi atau objek wisata alam saja, tetapi kebudayaan lokal Bali memang menjadi hal menarik untuk anda ketahui, karena daya tarik pulau yang dikenal dengan sebutan Seribu Pura ini tidak hanya pada keindahan panorama alamnya saja tapi berbagai budaya, seni dan tradisi yang dimiliki Bali, menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk diketahui.

Apalagi banyak budaya lokal setempat yang berhubungan dengan masa lampau, sebuah kebiasaan atau tradisi unik turun temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi, akan menjadi suguhan ataupun tawaran unik, bagi mereka terutama wisatawan yang baru pertama kali liburan bersama keluarga, anak-anak, rekan ataupun sahabat di pulau Dewata ini. Berikut 5 Macam Budaya di Bali.

Tradisi Ngaben

budaya di Bali

Tradisi Ngaben

Upacara Ngaben sendiri sebenarnya adalah prosesi pembakaran mayat atau kremasi bagi penganut Hindu Bali. Ritual pembakaran mayat tersebut ditujukan sebagai simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.

Secara harfiah, ada tiga pendapat arti dari kata Ngaben tersebut. Ada yang percaya bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal. Kemudian ada yang mengartikan dari kata ngabu atau menjadi abu. Ada pula yang berpendapat ngaben berarti penyucian dengan menggunakan api, menurut keyakinan agama Hindu.

Prosesi ini termasuk ke dalam Pitra Yadnya, atau upacara yang ditujukan untuk penghormatan roh leluhur, Sahabat.

Uniknya, selama upacara ngaben ini kita tidak akan menemukan isak tangis, justru dilakukan dengan penuh semarak. Sebab ada keyakinan bahwa kita dilarang untuk menangisi kematian seseorang karena dapat menghambat perjalanan arwah menuju ke alam baka.

Pemakaman Desa Trunyan

budaya di bali

Potret Pemakan di Desa Trunya

Pada umumnya orang meninggal di Bali, terutama bagi umat Hindu selain dikubur bisa dibakar atau dikremasi langsung, namun demikian suatu tradisi unik dengan budaya yang berbeda bisa anda temukan di Desa Trunyan Kintamani, kabupaten Bangli, yang juga merupakan salah satu desa Bali Aga. Pada saat orang meninggal, maka tubuh atau jasad orang tersebut hanya diletakkan di bawah pohon Menyan, jasad tersebut diletakkan di atas tanah tanpa dikubur, hanya dipagari oleh bambu (ancak saji) agar tidak dicari oleh binatang atau hewan liar, anehnya tidak sedikitpun dari jasad tersebut berbau busuk, sampai akhirnya tinggal tersisa tulang belulang saja, dan tulang belulang itu nantinya diletakkan pada sebuah tempat di kawasan tersebut, pemakaman di Trunyan ini melengkapi daftar budaya dan tradisi unik bumi Nusantara – Indonesia. Karena keunikan tersebut pemakaman desa tradisional Trunyan menjadi destinasi wisata di pulau Bali yang menjadi tujuan tour wisatawan.

Tradisi Mekare-Kare

Budaya di Bali

Tradisi Mekare-Kare

Mekare-kare ini dikenal juga dengan perang pandan, tradisi unik di pulau Bali hanya dilakukan di desa tradisional Tenganan, Karangasem yang dikenal juga sebagai desa Bali Aga. Perang dilakukan berhadap-hadapan satu lawan satu dengan masing-masing memegang segepok pandan berduri sebagai senjata. Desa Tenganan juga merupakan salah satu desa Bali Aga, yang mengklaim sebagai penduduk Bali Asli. Mekare-kare atau perang Pandan digelar saat Ngusaba kapat (Sasih Sambah) atau sekitar bulan Juni. Budaya dan tradisi unik tersebut digelar di halaman Bale Agung dilangsungkan selama 2 hari dan dimulai jam 2 sore, ritual atau prosesi tersebut bertujuan untuk menghormati Dewa Perang atau Dewa Indra yang merupakan dewa Tertinggi bagi umat Hindu di Tenganan. Desa ini menjadi salah satu destinasi wisata dan tujuan tour populer di pulau Bali.

Tradisi Omed-Omedan

budaya di bali

Tradisi Omed-Omedan

Budaya dan tradisi unik ini digelar di tengah kota Denpasar, tepatnya di Banjar Kaja, Desa Sesetan, Denpasar Selatan. Digelar setahun sekali, bertepatan saat hari Ngembak Geni atau sehari setelah hari Raya Nyepi, tradisi unik dimulai sekitar pukul 14.00 selama 2 jam. Prosesi ini hanya diikuti oleh kalangan muda-mudi atau yang belum menikah dengan umur minimal 13 tahun, omed-omedan berarti tarik menarik antar pemuda dan pemudi warga banjar dan terkadang dibarengi dengan adegan ciuman diantara keduanya. Nah Tradisi ini digelar sebagai wujud kegembiraan setelah pelaksanaan Hari Raya Nyepi, ini sebuah warisan budaya leluhur di pulau Bali, memiliki nilai sakral dan dipercaya akan mengalami hal buruk jika tradisi ini tidak dilangsungkan. Tradisi ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa dinikmati saat tour pada hari Ngembak Geni.

Tradisi Mekotek

Tradisi Mekotek

Prosesi atau ritual Mekotek ini hanya bisa anda temukan di desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Badung. Dikenal juga dengan Gerebeg Mekotek, tradisi unik di pulau Bali ini digelar setiap 6 bulan (210 hari) sekali, tepatnya saat perayaan Hari Raya Kuningan (10 hari setelah Galungan). Prosesi ini digelar dengan tujuan tolak Bala untuk melindungi dari serangan penyakit dan juga memohon keselamatan. Pada mulanya tradisi Mekotek, menggunakan tongkat besi, untuk menghindari agar peserta tidak ada yang terluka, maka digunakanlah kayu Pulet sepanjang 2-3.5 meter yang kulitnya sudah dikupas sehingga terlihat halus. Tongkat-tongkat tersebut dipadukan menjadi satu formasi sebuah kerucut, suara “tek,tek” kayu berbenturan tersebut sehingga dikenal dengan Mekotek. Budaya dan tradisi unik di Badung Bali ini masih terjaga lestari sampai sekarang ini.

Gebug Ende Seraya

Tradisi Gebug Ende Seraya

Atraksi ini dikenal juga dengan perang rotan, yang mana dua orang laki-laki berhadap-hadapan dan saling serang dengan sebatang rotan sepanjang 1.5-2 meter kemudian tangan satunya memegang tameng untuk menangkis serangan lawan, diantara keduanya dibatasi dengan batang rotan (garis tengah) agar tidak masuk ke wilayah lawan. Perang rotan ini tidak hanya perlu ketangkasan saja tetapi juga keberanian, karena setiap peserta bisa saja kena pukulan rotan lawan. Tradisi unik di desa Seraya, Karangasem – Bali Timur ini menjadi sebuah budaya yang diwariskan sampai sekarang, tujuan utama dari prosesi Gebug Ende ini adalah ritual tradisional untuk memohon hujan, dan ini dilakukan pada musim kemarau yaitu di bulan Oktober – Nopember setiap tahunnya. Kondisi geografis dari desa Seraya yang berada di wilayah perbukitan memang rentan dengan masalah air, itulah sebabnya ritual memohon hujan ini dilangsungkan di desa ini. Seraya juga memiliki sejumlah destinasi wisata yang bisa dikunjungi saat tour di pulau Bali.

Baca Juga: 

Nah itulah tadi sedikit pembahasan mengenai budaya di bali, dan untuk kamu yang mau liburan ke bali & dan nggak mau ribet atur jadwal liburan dan booking hotel, tenang kami labirutour siap membantu dengan cara, beli Paket Liburan Bali Terbaru.

Artikel Lain

Tinggalkan Komentar Anda