Sejarah Plengkung Gading

Yogyakarta terkenal dengan kerajaannya. Jika kamu berkunjung ke Jogja, kamu masih bisa menemukan bangunan-bangunan bekas kerajaan di masa lalu yang masih kokoh berdiri salah satunya Plengkung Gading Yogyakarta.

Plengkung Gading adalah sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pintu keluar atau masuk ke dalam jeron beteng Kraton Yogyakarta. Kraton ini adalah tempat tinggal Sri Sultan Hamengkubuwana X yang merupakan Raja sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Letaknya hanya sekitar 300 meter di sebelah selatan dari Alun-alun Kidul Yogyakarta.

Plengkung Gading ini dibangun pada tahun 1782 pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana I atau Pangeran Mangkubumi. Nama asli dari Plengkung Gading adalah Plengkung Nirbaya, “Nir” yang berarti tidak ada sedangakan “baya” berarti bahaya kemudian diartikan sebagai tidak ada bahaya yang mengancam.

Pada masa kerajaan Mataram, Plengkung Nirbaya ini digunakan sebagai pintu keluar ketika ada Raja Kraton Ngayogyakarta yang mangkat atau wafat. Plengkung Nirbaya menjadi satu-satunya pintu keluar bagi jenazah raja sebelum dimakamkan di Makam Raja-raja di Imogiri, Bantul. Karena itu, raja yang masih hidup tidak diperkenankan untuk melewati Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gading ini.

Zaman dulu, di Plengkung Gading dan empat plengkung lainnya terdapat sebuah jembatan gantung. Jembatan gantung ini dapat ditarik dan menjadi pintu pelapis plengkung ketika ada musuh datang. Namun jembatan gantung tersebut saat ini juga sudah tidak tersisa.

Ada 5 plengkung di yang mengelilingi Kraton yaitu Plengkung Taruno Siro di sisi utara, Plengkung Madyasuro di sisi timur, Plengkung Jagabaya di sisi barat daya, Plengkung Jaga Suro di sisi barat kesultanan kraton Yogya, dan Plengkung Gading/ Nirbaya terletak di sisi selatan.

Plengkung Gading

Plengkung Gading (Cr : Google)

 

Struktur Bangunan

Plengkung Gading

Plengkung Gading (Cr : Google)

Plengkung Gading dibangun dengan menggunakan batu bata yang dilapisi semen dengan ketebalan sekitar 55 cm dan longkahan selebar 2,4 meter yang diurug dengan tanah hasil galian. Tinggi urugan yaitu 3,7 meter dari permukaan tanah. Plengkung Gading juga pernah direnovasi pada tahun 1986 dengan tujuan untuk menjaga bentuk asli Plengkung Gading tersebut.

Dibagian atas plengkung gading ini ada ukiran burung yang sedang menghisap sari bunga, dalam bahasa jawa disebut Lajering Sekar Sinesep Peksi. Jika anda ingin tahu kapan gapura ini dibangun anda cukup mencari tahu arti dari kata Lajering Sekar Sinesep Peksi karena kata tersebut menyimpan banyak makna yaitu kata Lajering berarti angka satu, Sekar berarti angka Sembilan, Sinesep berarti angka enam dan Peksi berarti angka satu. Dari situlah kita bisa tahu bahwa gapura ini dibangun pada tahun 1961.

Plengkung Gading memiliki 2 sirine yang mana hanya dibunyikan pada 2 moment tertentu yaitu pada saat 17 Agustus untuk memperingati detik-detik proklamasi dan pada saat menjelang berbuka puasa pada bulan Ramadhan.

 

Baca Juga :

 

Plengkung Gading Saat ini

Plengkung Gading

Plengkung Gading (Cr : Google)

 

Plengkung Gading

Plengkung Gading (Cr : Google)

Saat ini Plengkung Gading  digunakan untuk terowongan jalan. Masyarakat umum bebas untuk keluar masuk lewat terowongan tersebut, namun kendaraan seperti bus ataupun truk tidak boleh melewatinya. Kamu juga tidak bisa naik ke bagian atas Plengkung Gading dikarenakan sudah ditutup dengan gerbang kecil karena alasan tertentu.

Plengkung Gading merupakan bangunan yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Walaupun kamu tidak bisa naik ke atasnya, tapi kamu dapat berfoto-foto instagramable dengan latar belakang bangunan ini. Saat siang hari bangunan putih ini berkesan megah sedangkan saat malam hari bangunan ini memberikan kesan glamour karena dihiasi oleh cahaya lampu-lampu.

Tertarik untuk mengunjungi Plengkung Gading Jogja ini? Kamu bisa pesan paket wisatanya di Labiru Tour yaa.. selain Plengkung Gading masih banyak lagi lho tempat-tempat bersejarah menarik lainnya di Yogyakarta.

Artikel Lain

Tinggalkan Komentar Anda